Sebuah cerita tentang kopi, sistem ERP, dan integritas operasional
Di sebuah kota kecil yang sedang tumbuh, berdirilah sebuah kedai kopi bernama Kopi Kita. Bukan sekadar tempat ngopi, Kopi Kita adalah simbol semangat lokal: biji kopi dari petani setempat, barista yang dilatih dari nol, dan pelanggan yang datang bukan hanya untuk rasa, tapi untuk cerita.
Suatu hari, pemiliknya—Bu Rani—duduk di depan laptop, menatap laporan keuangan dari sistem ERP yang baru saja diimplementasikan. Ia mengernyit. Penjualan terlihat bagus, tapi laba kotor? Tidak sebanding. Ada yang janggal.
“COGS-nya terlalu tinggi,” gumamnya.
Barista muda bernama Dika, yang juga jadi key user untuk modul inventory, mendekat. “Bu, mungkin kita bisa cek ulang harga beli dan metode valuasi stok di sistem. Saya lihat beberapa barang masuk tanpa freight-in dihitung.”
Bu Rani tersenyum. “Kamu paham COGS?”
Dika mengangguk. “COGS atau HPP itu harga pokok penjualan, Bu. Semua biaya langsung yang kita keluarkan untuk menghasilkan barang yang kita jual. Kalau kita jual kopi seharga Rp20.000, dan modalnya Rp8.000—itu Rp8.000 adalah COGS-nya.”
🔍 Apa Itu COGS?
COGS (Cost of Goods Sold) adalah total biaya langsung yang dikeluarkan untuk menghasilkan barang atau jasa yang dijual dalam suatu periode. Dalam konteks ERP dan akuntansi manajemen, COGS bukan sekadar angka—ia adalah cermin efisiensi operasional dan akurasi pencatatan.
Komponen Utama COGS:
| Komponen | Contoh dalam ERP Procurement & Inventory |
|---|---|
| Biaya Pembelian | Harga beli barang dari supplier |
| Biaya Produksi | Bahan baku, tenaga kerja langsung |
| Biaya Pengiriman | Freight-in, handling, asuransi masuk |
| Biaya Penyimpanan | Gudang, cold storage (jika relevan) |
| Penyesuaian Stok | Selisih fisik, barang rusak, expired |
Dalam sistem ERP, COGS biasanya dihitung saat terjadi transaksi penjualan, berdasarkan metode penilaian persediaan: FIFO, LIFO, atau Average Cost.
👷♂️ Tenaga Kerja: Masuk COGS atau OPEX?
Salah satu pertanyaan paling krusial dalam pencatatan COGS adalah: apakah gaji karyawan masuk ke dalamnya?
✅ Masuk COGS jika:
- Tenaga kerja langsung terlibat dalam produksi atau penyediaan barang/jasa yang dijual.
- Contoh: barista yang membuat kopi, tukang las, operator mesin, koki restoran.
❌ Tidak masuk COGS jika:
- Tenaga kerja tidak langsung atau bersifat administratif.
- Contoh: kasir, admin HR, supervisor area, manajer outlet.
| Jenis Tenaga Kerja | Masuk COGS? | Penjelasan |
|---|---|---|
| Barista pembuat kopi | ✅ Ya | Terlibat langsung dalam penyediaan produk yang dijual |
| Kasir kedai | ❌ Tidak | Tidak berkontribusi langsung pada produksi |
| Manajer operasional | ❌ Tidak | Fungsi pengawasan, bukan produksi |
| Vendor jasa roasting | ✅ Ya (jika langsung) | Outsourcing produksi yang langsung terkait barang dijual |
Di sistem ERP, komponen ini biasanya dicatat dalam modul produksi atau job costing. Untuk bisnis jasa, tenaga kerja langsung bisa jadi komponen utama COGS.

🧠 Analogi Sederhana: COGS itu seperti “Modal Dapur”
Bayangkan kamu punya warung kopi. COGS adalah semua biaya untuk membuat secangkir kopi: biji kopi, gula, air, gas, dan tenaga barista. Kalau kamu jual kopi seharga Rp20.000, dan modalnya Rp8.000, maka Rp8.000 itulah COGS-nya.
📈 Kenapa COGS Penting?
✅ 1. Menentukan Laba Kotor
Laba Kotor = Penjualan – COGS.
Tanpa COGS yang akurat, laporan keuangan bisa menyesatkan.
✅ 2. Mengukur Efisiensi Operasional
COGS yang tinggi bisa menandakan pemborosan, supplier yang tidak efisien, atau proses produksi yang perlu ditinjau ulang.
✅ 3. Menjadi Dasar Pricing Strategy
Tanpa tahu COGS, harga jual bisa terlalu rendah (rugi) atau terlalu tinggi (tidak kompetitif).
🛠️ COGS dalam Sistem ERP
Dalam modul ERP seperti Latto.ERP, COGS bisa di-track secara otomatis melalui:
- Cost Center → Menangkap harga beli aktual
- Inventory Valuation → Menentukan metode penilaian persediaan
- Sales Invoice → Memicu perhitungan COGS saat barang dijual
- Stock Adjustment → Memastikan data fisik dan sistem sinkron
Hero user di modul procurement dan inventory berperan penting untuk memastikan bahwa harga beli, quantity, dan metode valuasi tercatat dengan benar.

🎯 Pelajaran dari Kopi Kita
Minggu berikutnya, tim finance, procurement, dan inventory duduk bersama. Mereka belajar dari cerita Kopi Kita. Mereka mulai melihat COGS bukan sebagai beban, tapi sebagai alat ukur efisiensi dan integritas.
COGS bukan sekadar angka. Ia adalah cermin kejujuran operasional. Kalau kita salah menghitung modal, kita bisa salah mengambil keputusan.
Dan Bu Rani? Ia akhirnya bisa melihat laporan laba kotor yang sesuai. Ia tahu, bukan sistemnya yang ajaib—tapi kolaborasi tim dan pemahaman tentang COGS yang membuat semuanya berjalan.

semangat pagi, jangan lupa ngopi dan bahagia








